Mudik  Bareng Jakarta - Padang Lewat Lintas Tengah Sumatra (Road to Sumatra 3) 2017

Mudik Bareng Jakarta - Padang Lewat Lintas Tengah Sumatra (Road to Sumatra 3) 2017

Konvoi Bareng Road to Sumatera Grup 21 Seru, Mudik Jadi Berasa Touring!

Cihuyy...Mudik lagi! Ini adalah kali ketiganya kami pulang kampung bersama komunitas Road to Sumatra (RTS) 3 yang dipelopori oleh om Sony. Sebelumnya kami juga ikut mudik bareng pada tahun 2016. Saya mudik ke Solok, tepatnya di Sumani dan memilih melewati Jalur Lintas Tengah (Jalinteng) Sumatera yang merupakan salah satu jalur favorit bagi para pemudik yang menuju daerah Sumatera Barat dan Sekitarnya.

Mudik lewat jalur lintas tengah sumatera ini memiliki banyak variasi mulai dari jalan yang bergelombang, berlubang, mulus, lurus dan berliku-liku serta melewati beberapa provinsi, sehingga menawarkan keseruan tersendiri untuk melewatinya. Kita juga disuguhkan dengan pemandangan yang berbeda dengan jalur lintas sumatera lainnya. Selain itu dibutuhkan juga strategi dalam mengatur waktu untuk melewati jalur yang termasuk rawan, yaitu daerah Lahat- Linggau yang memiliki jalan berkelok-kelok dan Muara Rupit yang masih ada terdengar kasus pelemparan batu. Bagi para pemudik sebaiknya menghindari melewati daerah ini pada Malam hari.

Pada Mudik Bareng RTS 3 kali ini ini Saya masuk Grup WhatsApp 21 yang artinya berangkat pada tanggal 21 juli 2017, yang sebelumnya rencananya sih tanggal 16 Juni 2017 bareng Om Sony dan Om Werry (yang sukses melakukan konvoi rapi hingga Sumbar dengan Grup 16) namun jatah Cuti Istri tidak sesuai dengan keinginan, padahal rencana ini sudah jauh hari pas Kopdar di TMII :D. Dan sempat juga galau jalan pada tanggal 22 Juni 2017, namun berhubungan dengan adanya Kepres presiden bahwa jatah cuti bersama ditambah satu hari lagi, kami pun memutuskan untuk berangkat di tanggal 21 Juni 2017.

Pada grup 21 Juni ini termasuk grup yang cukup rame, terdapat 11 member yang udah ngelist untuk berangkat pada tanggal tersebut yaitu Om Wikey, Om Catur, Om Wandi, Om Hariadi, Om Ismail, Om Tomi, Om Arief (teman mudik RTS 2016), Om Rizka, Om Merios, Om Arie dan Om Jaesa dan dua tambahan lagi yang tidak nge list yaitu om Zaki dan Nte Monalisa.

Setelah berkomunikasi lewat grup WA maka diputuskan beberapa tempat yang nantinya dijadikan titik kumpul (tikum) selama dalam perjalanan tersebut yaitu Rest Area KM 43 Balaraja, Simpang Raya Kalianda, RM Taruko 2, Hotel Grand Zuri Lahat, RM Pagi Sore Lubuk Linggau, RM Umega Gunung Medan.

Dalam perjalanan menembus jalur lintas tengah sumatra ini, Grup 21 juga menggunakan aplikasi Android Lacakin yang bisa memantau posisi dan jarak penggunanya berada, pada awalnya aplikasi ini Saya buat untuk grup 22, namun akhirnya saya pindah ke grup 21 dan menginfokan juga kepada grup 21 untuk menggunakannya sebagai tambahan saja.

#RTS58 Ready!!

Dan akhirnya tanggal 21 Juni 2017 pun tiba! Umi, Ayesha dan Kakak sangat antusias dan bersemangat sekali dan sudah jauh-jauh hari mempersiapkan semua barang dan keperluan untuk mudik. Sekitar jam 14.00 WIB kami mulai memasukkan barang ke dalam mobil dan menaikkannya ke atas roof rack dan dibungkus dengan roof bag. Bangku baris kedua bagian kanan Saya lipat, kemudian Saya taruh koper agar bisa datar dan dialas dengan kasur sehingga bisa digunakan untuk tidur Ayesha, sedangkan bangku baris kedua bagian kiri tetap di berdirikan untuk duduk Kakak.

Bismillah, setelah Ashar tepatnya jam 16.00 Kamipun meluncur menuju Tikum RA KM 43 Balaraja melewati gerbang Toll Pisangan Baru arah Ancol yang masih lancar hingga KM 43 Balaraja. Namun sebelum tiba di KM 43 Saya mendapat info dari om Catur bahwa pembelian tiket ASDP kapal Merak-Bakauheni di KM43 sedang tutup 1-2 jam sehingga Saya memutuskan untuk lanjut ke Rest Area KM 68 Serang yang juga menjual tiket yang sama.

Tiba sekitar jam 17.15 WIB, Saya langsung parkir dan menuju ke loket pembelian tiket, namun disambut oleh seseorang yang menawarkan kertas form, tadinya saya pikir calo soalnya gak keliatan baju RTS nya ketutup jaket, gak taunya Om Catur, maaf ya om soalnya langsung ngasih form aja, kan kita belum pernah ketemu :). Om Catur bilang biar lebih cepat karena antrian sudah terlihat ramai. Thanks Om Catur.

Ngantri sekitar 15-20 menit
Di loket ASDP ini kita wajib mengisi form yang sesuai dengan nama dan KTP penumpang serta nomor IDnya jadi lumayan ribet untuk pengisiannya. Alhamdulillah, rekan RTS yang berangkat sehari sebelumnya sudah mengingatkan untuk membawa pulpen, karena di loket ini terjadi antrian pulpen :D. Setelah menyerahkan form kepada petugas, Saya harus menunggu sekitar 20 menit untuk dipanggil nama dan membayar biaya tiket sebesar Rp 374.000 dengan jam masuk kapal tertera di tiket yaitu jam 22.00 WIB.

Di Rest Area 68 KM sudah berkumpul Om Catur, Om Merios, Om Arief dan Om Tomi. Disini kami berbuka puasa dengan menu makanan yang dibawa dari rumah, setelah itu sholat Maghrib dan juga Isya sembari menunggu rekan yang lain. Namun Om Merios pamit duluan karena anaknya sudah rewel dan menunggu sudah dari jam 4an untuk menyusul Om Ismail yang juga sudah duluan berangkat.

Kami sepakat menunggu hingga jam 19.30, jika tidak ada lagi yang datang kita berangkat langsung karena takut antrian naik ke kapal yang bisanya semakin malam semakin ramai, karena di hari sebelumnya dapat kabar dari Grup 20, untuk naik kapal bisa mengantri hingga 2-3 jam. Sepertinya dari pengalaman sebelumnya, untuk naik kapal sebaiknya menjelang sore atau jam 5 karena pemudik yang menuju Sumatera berangkat dari Jakarta setelah pulang dari Kantor.

Jam 7an Om Wandi akhirnya datang juga, dia agak telat karena tadi dia mampir ambil Handy Talkie (HT) di proyek dekat dari Rest Area tersebut. Selain itu Om Wandi juga mengabarkan bahwa stiker dari kaskus belum nyampe ke rumahnya karena JNE saat itu sedang overload, sehingga kita tidak jadi pasang stiker kaskus di mobil masing-masing.

Setelah semuanya datang dan tiket kapal sudah ditangan, kami pun berangkat menuju Merak dengan bermodalkan 4 HT untuk komunikasi. Om Arief menyarankan saya di untuk berada di barisan depan (RC), disusul dengan Om Arief, Om Catur, Om Tomi dan Om Wandi dibelakang (Sweeper).

Sedangkan rekan RTS 21 yang lain seperti Om Jedi, Om Hariadi, Om Jaesa, Om Rizka dan Om Zaki yang datangnya telat dan menyusul rombongan jika memungkinkan akan kumpul lagi di RM Taruko Jaya 2, Kotabumi.

Perjalanan ke Pelabuhan Merak terpantau ramai lancar dan selepas Gerbang Toll Merak kami sempat re-group lagi sebentar dan langsung masuk berbarengan. Setelah mengecek website untuk tracking kapal, terpantau kapal Portlink di Dermaga 3, hal ini juga diinfokan oleh Om Sony dan kita disuruh bergegas agar tidak ketinggalan kapal tersebut.

Menunggu Giliran untuk Naik Kapal

Masuk ke Pelabuhan tidak ada kendala, malah terlihat normal dan Kami bisa memilih dermaga sesuai dengan keinginan kami. Kami re-group lagi setelah masuk ke Pelabuhan Merak, dan mobil langsung saya arahkan ke Dermaga 3 yang disana sudah terlihat kapal Portlink, setelah bertanya kepada petugas saya dipersilahkan masuk langsung ke kapal, namun saya bilang bahwa kami rombongan ada 5 mobil (20.25 WIB). Namun petugas menginfokan hanya bisa untuk 2 mobil saja. Akhirnya kami terpaksa menunggu sekitar setengah jam untuk naik kapal berikutnya yaitu Adinda Windu Karsa yang lumayan besar dan bagus juga kapalnya.

Pemandangan Pelabuhan Merak dari Parkiran di Atas Kapal
Sekitar jam 21.00 kami sudah naik ke dalam kapal, kapal ini dalamnya bagus dan bersih, ada ruang eksekutif yang ber-ac dan tempat duduk dengan tarif Rp 10.000, namun TIDAK ada tempat lesehannya! Padahal ini yang paling dicari buat single driver seperti Saya. Akhirnya terpaksa tidur-tiduran saja di kursi sambil dipijit-pijit Umi dan Ayesha.

Setelah berlayar sekitar 2 jam akhirnya kapal mendekati pelabuhan Bakauheni, namun belum akan bersandar, menurut informasinya kapal akan bersandar sekitar 1-2 jam lagi! Karena menunggu giliran loading atau gantian dermaga dengan kapal yang akan berangkat. Saya dan keluarga berinisiatif untuk menunggu di dalam mobil saja agar Saya juga bisa tidur sebentar.

#RTS57 (Om Arief) dan #RTS 74 (Om Catur)
00.30 WIB: Karena kami paling awal masuk kapal, maka posisinya jadi yang belakangan untuk keluar dari kapal. Setelah turun, kami re-group lagi di gerbang keluar pelabuhan Bakauheni yang terlihat baru dibangun jalannya, setelah itu kamimeluncur langsung ke RM Simpang Raya Kalianda untuk berhenti sebentar ke toilet.

01.00 Setelah berhenti sejenak di Simpang Raya, 5 mobil langsung jalan beriringan menyusuri jalan Kalianda bersama mobil pemudik lainnya. Namun setelah perjalanan beberapa jam, mobil Om Tomi dan Om Wandi tidak terlihat lagi di belakang, sehingga Kami berinisiatif untuk menunggu di SPBU depan Begadang 5 sembari istirahat tidur sebentar karena mata juga udah berat. Sebelumnya, Saya lihat jam sudah 02.40 WIB dan saya juga info via WA dan share location ke om Wandi dan om Tomi bahwa kami berhenti di SPBU tersebut.



Lampung to RM. Taruko Jaya 2
Kami berhenti di SPBU ini sekitar 2 jam an, Saya cek kembali WA om Tomi membalas bahwa mereka berdua sudah di Tikum dua yaitu RM Taruko Jaya 2 dan mereka menunggu disana sambil istirahat. Ternyata mereka udah lanjut duluan. Saya bangunkan Om Arief dan Om Catur untuk segera berangkat. Om Catur beberapa kali saya ketuk pintu kaca mobilnya baru terbangun. rupanya tertidur pulas, maklum dia start-nya dari Semarang. Sebelum berangkat ke Tikum dua, Saya dan Om Arief sempatkan untuk sahur terlebih dahulu dengan bekal yang kita bawa masing-masing dari rumah.

Sekitar jam 5an kami sudah kembali menyusuri jalan Lintas Sumatera melewati Bandar Jaya yang jalannya bergelombang, lalu lintas masih sepi dan bebas macet. Kami sempat berhenti lagi untuk sholat Subuh di sebuah Mushola kecil di pinggir jalan, setelah itu kembali melanjutkan perjalanan dan tiba di RM Taruko Jaya sekitar jam 07.15 WIB. Disini kami bergabung lagi dengan Om Tomi dan Om Wandi serta istirahat juga sebentar sekitar 15 menitan dan tentunya berfoto lagi.

road to sumatera
Ki-Ka: Om Arief, Om Wikey, Om Tomi, Om Catur, Om Wandi

07.30 WIB kami melanjutkan perjalanan kembali menyusuri jalanan Kotabumi yang lumayan ramai dengan mobil plat B dan sempat juga sempatkan untuk berhenti sekali untuk mengisi bensin danmembeli Duku Palembang di Daerah Martapura yang harganya lumayan mahal yaitu 25.000/kg. Umi akhirnya cuman beli 2kg aja. Dan rasanya tidak sesuai ekspektasi karena ada yang manis dan ada yang asem. Padahal setelah itu, di daerah Jambi kami lihat banyak lagi yang jual Duku dengan harga yang lebih murah.

Macet di Lampu Merah di Kotabumi (#RTS68 Om Wandi)
Kotabumi - Baturaja
Jam 12an siang kami sampai juga di SPBU Baturaja yang juga disampingnya ada RM Sederhana. Tempat ini dipenuhi oleh mobil pribadi yang beristirahat. Ditempat ini akhirnya Saya memutuskan berbuka puasa karena sakit kepala yang lumayan bikin gak nyaman sepanjang perjalanan. Sempat tidur-tiduran juga disamping musholanya cuman kurang bersih aja. Sedangkan yang lain ada yang bersih-bersih dan makan siang.

Istirahat di SPBU Baturaja

14.00 WIB kami tancap gas lagi untuk menuju Muara Enim. Jalan Baturaja-Muara Enim cukup bagus, walaupun banyak lubang kecil sesekali. Jalan di daerah sini tidak terlalu lebar, berkelok-kelok sehingga agak susah untuk menyalip Bis dan Truk. Sedangkan jalan di daerah Simpang Meo tepatnya pangadonan sudah mulus berbeda dengan tahun lalu yang lubangnya bikin mobil harus pelan dan zig-zag untuk mencari jalan yang lubangnya tidak terlalu dalam.

Sempat beberapa kali Saya menyalip Bis namun rombongan di belakang tertinggal, sehingga Saya memutuskan untuk menunggu di sebuah masjid daerah Tanjung Agung sembari istirahat dan ke toilet sekitar 10 menitan.

Baturaja to Enim
Sekitar jam 17.00 WIB kami sudah sampai di pertigaan Muara Enim antara Lahat dan Prabumulih, Om Catur, Om Tomi dan Om Wandi tertinggal di belakang sehingga Saya dan Om Arief menunggu di depan masjid yang dekat persimpangan tersebut. Tidak berapa lama, Om Catur menelpon saya dan bilang bahwa tadi mereka mengambil jalur ke Prabumulih, dan Saya bilang untuk putar balik lagi dan mengambil jalan yang ke arah Lahat.

Setelah semua bergabung lagi, kami melanjutkan perjalanan menuju kota Lahat, jalan Muara Enim-Lahat masih tergolong ramai dan kami tiba sekitar jam 6an di Lahat. Kami memutuskan untuk menginap di Grand Zuri Lahat karena jika diteruskan bisa masuk Lubuk Linggau jam 10an malam, apalagi om Arief start perjalanannya dari Tegal dan Om Catur dari Semarang. Kami memesan kamar disini lewat aplikasi Traveloka karena lebih murah sekitar 30-40 ribuan daripada memesan langsung ke hotelnya. Biaya menginap disini sekitar 480 ribuan per malam.

Grup 21 Road to Sumatera 3 2017 @GrandZuri Lahat
Sesampai di kamar hotel, Saya langsung mandi dan rencananya akan jalan-jalan keluar bersama untuk mencoba Kuliner di sekitar Lahat, namun tidak jadi karena kecapaiannya dan malas keluar, Sehingga jadilah Kita makan bekal yang masih ada dibawa dari rumah, yaitu Dendeng, kentang dan mie instant. Lumayan kenyang, sementara member yang lain ada yang makan diluar. Selepas makan, semua anggota keluarga tertidur pulas.

Co Driver Grup21

Keesokannya hari nya, kami sepakat untuk berangkat jam 07.30 WIB dan tidak lupa sebelumnya kami berfoto bersama di Hotel Grand Zuri Lahat. Setelah jalan beberapa saat, Saya minta info ke om Sony, apakah bagus lewat kota atau lingkar luar, dan Om Sony menyarankan lewat lingkar luar saja.

Jalan dari Lahat menuju Lubuk Linggau termasuk mulus beda dengan tahun sebelumnya hanya ada beberapa bagian longsor. Namun dalam perjalanan tersebut Om Wandi menabrak ayam di salah satu kampung di Lahat dan diminta ganti rugi oleh warga setempat dengan mahar 50 ribu.

Lahat to Linggau, Konvoi Masi Rapi

Setelah melewati jalan Lahat yang berkelok-kelok dan mulus, kami tiba di Lubuk Linggau sekitar jam 11an dan memutuskan untuk mencari pempek Familidin yang direkomendasikan oleh Om Sony, sempat ketemu Tokonya yang disebelah kanan jalan, namun tidak melayani partai besar, sehingga kami disarankan untuk ke Toko yang satu lagi yang berada sekitar 4 km dan berada di sebelah kiri jalan.

Kebersamaan di RM Pagi Sore Lubuk Linggau/Photo: Om Arief

Setelah semua mendapatkan pesanan pempeknya, kami meluncur ke Rumah Makan Pagi Sore untuk Istirahat, Sholat dan makan bagi yang tidak puasa. Selain itu kami juga menunggu Om Yedi yang katanya juga sudah sampai di Lubuk Linggau namun harus mampir dulu ke Bengkel Toyota untuk perbaikan Rem mobilnya, Namun orang Toyota Istirahat siang sehingga Kami tidak jadi bareng (Maaf ya om Yedi). Juga ada om Hariadi yang katanya baru mau masuk Lubuk Linggau tapi gak ketemu juga. Rumah Makan Pagi Sore ini tempatnya cukup nyaman dengan tempat duduk lesehan yang berada di pinggir sungai, mirip-mirip dengan Cimory Riverside yang ada di Puncak, Bogor.

13.23 WIB: Setelah 1 jam-an disini, Kami melanjutkan perjalanan menyusuri Muara Rupit -  Sarolangun dan sempat berhenti di sebuah SPBU daerah Merangin pada jam 16.15 untuk isi bensin, sholat dan ke toilet. Jalan menuju perbatasan Jambi-Sumbar sangat lah mulus, namun motor masih banyak apalagi menjelang berbuka puasa sehingga kami harus berhati-hati pada saat menyalip.

Merangin - Bangko - Muaro Bungo Jalan Bagus, tapi banyak motor
Selepas SPBU Merangin dan baru beberapa kilometer, Saya menabrak suatu benda yang tidak terlihat yang katanya melintas, Saya bertanya ke Om Wandi via HT, Dia menjawab bahwa yang tertabrak anak monyet, jadi lanjut saja katanya. Memang jalanan harus sedikit ektra hati-hati karena masih banyak hewan liar atau peliharaan yang melintas tiba-tiba. Jalan Lubuk Linggau - Muaro Bungo sangat mulus sehingga bisa dipacu hingga 80-100 km/jam. Dan sekitar jam 7 magrib Kami sudah tiba di Muaro Bungo dan Kami berbuka puasa disini di sebuah Rumah Makan minang yang saya lupa namanya (Pondok Salero atau Salero apa gitu), Menu nasi Gorengnya lumayan enak, selain itu juga ada Mie Goreng Martabak Mesir dan Teh Talua.

Berbuka di Muaro Bungo

Beres urusan perut kami, Jam 19.38 Kami tancap gas lagi melewati daerah - Sungai Rumbai - Sungai Dareh - Dharmasraya .Jalanan menuju Sumatera Barat ternyata tidak semulus tahun kemaren, karena banyak didominasi jalan yang rusak parah sehingga memaksa mobil untuk mengerem mendadak dan mencari jalan yang dikira tidak terlalu dalam lobangnya.

Kami tidak singgah di RM Umega karena masih kenyang, dan sempat berhenti lagi di sebuah SPBU, karena Ayesha sakit perut dan sempat muntah. Mungkin karena kebanyakan mie instant kali ya.


Sesampai di daerah menjelang Sijunjung 12an malam, mata Saya gak bisa dikompromi lagi sehingga Saya memutuskan untuk tidur 5-10 menitan sembari yang lain bisa ke Toilet. Sebelumnya Saya bilang jika yang lain ingin lanjut, silahkan saja, namun semuanya sepakat untuk jalan bareng lagi.

Setelah 5-10 menit mata dipejamkan, Kami melaju lagi menuju Kota Sijunjung dan disini kami berpisah dan saling mengucapkan terima kasih satu sama lain. Saya dan Om Arief lurus menuju Solok, sedangkan yang lain belok kanan menuju jalan lintas ke Bukittingi. Om Wandi lanjut ke Lubuk Sikaping, Om Tomi tujuannya Batu Sangkar dan Om Catur yang paling jauh yaitu ke Pasaman Barat.

Jarak antara Sijunjung Solok lebih kurang 50 km, Saya perkirakan ini sekitar satu jam lagi, meskipun mata mulai ngantuk berat namun tujuan sudah dekat membuat Saya menjadi semangat lagi, maka saya percepat laju mobil dan diikuti oleh Om Arief. Jam 1an kami sudah tiba di Kota Solok, Saya berpamitan dengan Om Arief karena masih melanjutkan perjalanan sekitar 11 km lagi menuju Sumani. Alhamdulillah, tepat Jam 02.10 WIB kami landing di Sumani dan disambut hangat oleh keluarga..

Terima Kasih untuk Om Sony selaku ketua RTS, Om Arief, Om Catur, Om Tomi dan Om Wandi yang selalu kompak selama perjalanan mudik di Grup 21 serta om dan tante RTS lainnya yang sudah berbagi info selama perjalanan mudik dan arus balik. Mudik kali ini sangat berkesan buat Saya, karena dari Rest Area KM 68 Serang sampai Sijunjung kami konvoi 5 mobil. Mudik jadi berasa Touring Jerr! Semoga di berikutnya, Kita bisa mudik bareng ke padangdi tahun 2018 lagi. InshaAllah.



Konsumsi BBM


Note: Total Perjalanan sekitar 1359 KM
Biaya BBM Rp 759.222 | Ertiga Manual
Metode Full to Full (FTF) 1:14.59, Campuran Pertamax (65.9 Liter) + Pertalite (27.1 liter)
Harga Pertalite Rp 7.700 dan Pertamax Rp. 8.350

Advertisement

Baca juga:

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

4 komentar

mengesan kan ceritanya.. saya juga minta maaf om wike... sksd saya nya... hehe..maksud saya baik tapi, gak nyadar kalau pakai jaket jadi gak keliatan baju rtsnya..ijin save blog om buat cerita anak saya ( zaskia naura arumi ) kalau besar nanti...

Balas

Alhamdulillah om, sama2 om. Silahkan om, semoga makin semangat untuk mudik ya om di tahun berikutnya, dan semoga bisa bareng lagi :)

Balas

Mantap kisahnya om Wike, ditunggu cerita baliknya..

Balas

Alhamdulillah, ok siap om Alfath..

Balas