Mudik Bareng Jakarta - Padang Lewat Lintas Barat Sumatra (Road to Sumatra 4) 2018

Mudik Bareng Jakarta - Padang Lewat Lintas Barat Sumatra (Road to Sumatra 4) 2018

Alhamdulillah.. tahun 2018 kami masih diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mudik bareng ke Sumatera lagi ke kampung halaman istri yaitu di Sumani, Solok. Kali ini kami bareng dengan ketua RTS yaitu Om Sony a.k.a Pakwo yang dari dulu 2016 dan 2017 gagal terus buat berengan pulangnya karena beda tanggalnya. Dan istimewanya lagi kita akan melewati Jalur Lintas BARAT Sumatera yang terkenal dengan keindahan pesisir pantai serta jalan yang bagus, namun jalur tersebut tidak ramai dilewati oleh pemudik pada musim lebaran dikarenakan jarang rumah makan dan juga SPBU juga tidak terlalu banyak pada jalur tersebut.

Sebenarnya jalur lintas barat ini sudah pernah dilalui oleh salah satu anggota RTS yaitu Om Eko pada libur akhir tahun Desember 2017 yang dilakukan dengan solo touring atau sendirian (nekat juga nih om Eko :D), jadi dari info beliau inilah kita makin semangat untuk melewati jalur lintas barat ini dan juga beliau sendiri ikut dalam rombong ini sebagai Road Captain (RC). Dan info tambahan mengenai linbar juga didapat dari Om Yandri HEP yang sudah pernah melewati jalur ini pada saat Mudik tahun 2017, namun pada tahun ini tidak mudik.
RTS Nopung 21 Ready!
Sebagaimana biasa, setiap mudik kami selalu antusias, karena ini adalah momen yang ditunggu-tunggu selama 11 bulan untuk bersilaturahmi dengan orang tua, sanak saudara di kampung. Persiapan mudik selalu kami lakukan jauh hari bahkan satu bulan sebelum mudik, Kami sudah mencatat apa saja barang dan perlengkapan apa saja yang akan dibawa. Apalagi buat si kecil Kami, Ayesha yang sudah rindu dengan nenek dan sepupu-sepupunya di Solok.

Anggota mudik kami, masih sama dengan tahun kemaren, Saya, Ummi, Ayesha dan Kakak. Persiapan baju dan barang bawaan masih dihandle oleh Ummi dan Ayesha serta kakak. Sedangkan Saya mempersiapkan mobil dan roof rack beserta roof bag untuk menempatkan barang bawaan yang lumayan banyak dibawa oleh Ummi Ayesha. (Mudik apa pindah buk?).

Kali ini persiapan lumayan matang. Karena barang bawaan sehari sebelum berangkat sudah masuk ke dalam mobil dan dinaikkan ke atas roof rack. Sehingga pas hari H yaitu tanggal 8 Juni 2018 kita sudah bisa langsung jalan tanpa ribet lagi untuk loading barang ke dalam mobil.

Service mobil oke, Ban oke, BBM Full, HT Ok, roof rack oke, barang-barang udah oke, Tiket Kapal oke (pesan online). Akhirnya Jam 14.25 WIB dengan mengucap Bismillah Kami meluncur dari Pisangan Baru ke Tikum 1 yang sudah disepakati oleh anggota RTS 8 Linbar yaitu di Rest Area KM 68 Toll Jakarta - Merak.


Dari Pisangan Baru kami langsung masuk melalui gerbang toll Pisangan Baru - Ancol - Jorr - dan Masuk toll Jakarta - Merak. Perjalanan di selingi dengan hujan di beberapa tempat dan agak sedikit macet di sekitar km 8 dan Kami tiba di Rest Area KM 68 sekitar Jam 16.00 dan sudah ditunggu oleh rekan RTS lainnya. Disana sudah ada Om Rio, Om Yos, Om Anto, Om Eko, Om Mahfud, Om Arief, Om Hendro, Om Heri, Om Andri dan Om Zaki CS. Sementara Om Sony dan Om Audit berangkat dari Cilegon. Sedangkan Om Romi, Om Ade, Om Jendra masih di jalan karena terhalang oleh macet, dan akan menyusul langsung ke Pelabuhan Merak.

Rata-rata semua rekan yang ikut linbar dilengkapi dengan alat radio komunikasi berupa Handi talky (HT) dan juga ada yang menggunakan Rig di mobilnya (Om Jendra). Pemakaian HT ini sangat berguna sekali dan memudahkan koordinasi rombongan Kami pada saat konvoi.

Berikut daftar List Mudik LinBar tanggal 08-Juni-2018 keberangkatan jam 16.30 diTikum 1 Rest Area KM 68  yang diambil dari grup WhatsApp:
1. Om Rio
2. Om Njendra
3. Om Hendro
4. Om Audit
5. Om Anto
6. Om Sony
7. Om Jape Mahfud
8. Om Wikey
9. Om Zaki CS
10. Om Romi
11. Om Yos
12. Om Eko B
13.Om Arief
14. Om Ade
15. Om Andri
16. Om Heri
17. Om Ricky
18. Om Henry

Tepat pada jam 16.38 rombongan perlahan bergerak menuju pelabuhan Merak dengan om Eko di depan. Jalan menuju Pelabuhan masih ramai lancar. Masuk ke Pelabuhan Merak masih belum terlalu ramai sehingga jam 17.36 kami sudah berada di kawasan Pelabuhan Merak untuk Regroup lagi dengan anggota yang lain. Kami juga sempat menunggu Om Audit yang jalan dari Cilegon di sini.

mudik road to sumatra
Masuk pelabuhan Merak, Bayar tiket 374 ribu
Regroup sebentar akhirnya Rombongan mulai bergerak ke Dermaga 1, namun Rombongan terputus 8 mobil tertinggal dikarenakan kapal sudah penuh. Yaitu Saya, Om Ricky, Om Arief, Om Ade, Om Hendro, Om Romi, dan Om Audit yang sudah ditungguin dari tadi, soalnya beliau ini dekat dari Cilegon, namun nyasar salah masuk toll jadinya muter lagi, Alhamdulillah gak ketinggalan rombongan serta kami juga bertemu dengan Om Endro yang ketinggalan rombongan RTS Lintas Tengah.

Line up dulu sebelum naik Kapal
18.45 Rombongan Saya sudah mulai masuk kapal BSP1 yang ukurannya ternyata tidak terlalu besar, namun Alhamdulillah Kami dapat posisi parkir di atas dek kapal bersebelahan dengan om Ade, sehingga tidak perlu turun dari mobil. Perjalanan ditempuh sekitar 2 jam lebih. Dan mobil kami turun paling awal dan menunggu rekan yang lain di luar pelabuhan Bakauheni untuk regroup lagi. Namun rombongan kami jadinya terpisah yaitu Saya, Om Ade, Om Audit jalan bertiga, sementara Om Romi, Om Arief, Om Ricky dan Om Hendro juga jalan berempat menuju tujuan yang sama yaitu Tikum 2, SPBU depan Rumah Makan Begadang 5.

Di kapal
Keluar Bakauheni perjalanan di awali dengan masuk jalan toll yang belum ada penerangannnya, namun cukup lumayan membantu untuk mempersingkat waktu. Ujung toll ini nantinya akan keluar dan menyambung lagi di jalan lintas tengah. Jalanan menuju Bandar Lampung ini ternyata masih banyak tambalan dan bergelombang, mobil Kami sempat menghantam sebuah lubang pada sambungan jembatan di flyover dengan keras sehingga barang yang ada di dashboard berhamburan. Jalanan terlihat ramai dan agak susah untuk mendahului truk selain itu jalanan masih ramai lancar dari berlawanan arah. Kami sempat berhenti di sebuah SPBU didaerah Sidomulyo sekitar 25 menit untuk menunggu Om Romi Cs dan menanyakan posisi rombongan, namun ternyata sudah lewat sehingga kami mencoba untuk menyusul dan sampai di SPBU depan Begadang 5 pada pukul 00.05.

Kami kembali bergabung dengan rekan yang lain yaitu sekitar 21 mobil yang akan berangkat lewat lintas barat. Cuman 15 Menit disini, Kami lanjut jalan menuju bandar lampung dengan Om Eko sebagai Road Captain serta Om Jendra sebagai Antena atau penyambung info karena menggunakan Rig di mobilnya sehingga memudahkan rekan-rekan yang di belakang untuk monitor lewat HT selama perjalanan.

Selepas pertigaan Bandar Lampung, Rombongan mengambil arah ke kiri menuju Kota Agung. Jalanan sangat mulus, berkelok-kelok dan sepi. Tujuan kami adalah Masjid Imaduddin yang jadi Tikum ke-3. Kami sempat berhenti di sebuah SPBU di daerah Lakaran, karena Om Audit sudah tidak kuasa menahan kantuk dan rombongan yang lain sudah jalan duluan ke Tikum 3. Kami berhenti sekitar 40 menit, namun Om Audit belum bangun juga sehingga kami memutuskan untuk ke Tikum 3 duluan karena jaraknya cuman 15 km dari SPBU tersebut.

mudik road to sumatra barat
Photo dulu di Masjid Imaduddin biar semangat lagi!
Kami tiba jam 03.54 di Masjid Imaduddin dan istirahat disini sambil sahur dan Sholat Subuh berjamaah. Masjid ini ramai dipenuhi juga oleh pemudik lainnya. Masjidnya cukup besar dengan airnya yang melimpah dan juga bersih. Namun disini, pas mau berangkat, Om Arief kehilangan kacamatanya, sempat mencari beberapa kali namun tidak ditemukan juga. Sehingga pakai kacamata cadangan Saya. Walaupun sebenarnya tidak terlalu cocok, namun untuk melihat jarak jauh masih bisa kata Om Arief (Alhamdulillah yang penting masih bisa dipake).

Viewsnya Keren!
Tepat jam 05.40 WIB, Kami sudah melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanannya melewati hutan yang jalannya pas-pasan untuk dua mobil, namun bagus aspalnya. Hutannya sangat lebat dan sesekali terdengar suara monyet pada pagi hari serta kicauan burung. Jalanan sepi, hanya sesekali kami berpapasan dengan truk dan mobil yang lewat.  Dan sekitar jam 7an kami sudah keluar dari hutan lebat dan bertemu dengan pemandangan laut yang cukup mempesona jika dilihat dari jalan yang kami lintasi. Lintas barat memang menyajikan paduan pemandangan antara hutan hijau dan pantai sehingga sangat memanjakan mata, selain itu jalannya berkelok, menanjak serta menurun yang menantang adrenalin untuk melintasinya.


mudik road to sumatra
Aspalnya Mulus
Kami juga melintasi jalan yang menjadi momok yang cukup membuat kami berpikir dua kali untuk melintasi lintas barat Sumatra ini, yaitu Jembatan Putus di daerah Krui, namun Alhamdulillah pada perjalanan ini, kami bisa melintasinya dengan melewati jalan yang berpasir disamping di jalan tersebut. Untuk melintasinya, kami harus turun ke pinggir pantai yang sudah di padatkan oleh penduduk sekitarnya. Jalan ini kira-kira berjarak 100 meter dari pinggir pantai sehingga masih aman untuk dilalui. Namun jika hujan lebat, jalan ini terendam, sehingga untuk melintasinya harus menunggu sampai air surut.



Istirahat sambil main pasir di Pantai Labuhan Jukung Krui
Akhirnya jam 08.44 WIB kami sudah tiba di Labuhan Jukung Krui untuk beristirahat serta sarapan bagi yang tidak menunaikan puasa (hihihi). Disini pantainya sangat bersih, namun ombaknya cukup besar sehingga bagi anak-anak perlu pengawasan ekstra. Untuk masuk ke pantainya tidak dipungut biaya. Namun fasilitas seperti toilet dan lain-lain masih belum ada. Disini om Arief juga megalami kendala pada mobilnya karena tidak bisa starter. Namun Alhamdulillah om Mahfudz bawa kabel jumper, dan juga dibantu oleh warga disana dijumper akinya dengan mobil Avanza-nya (makasi ya om).

Salah satu spot buat foto-foto
Sekitar 1 jam-an kami di Pantai Labuhan. Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Bengkulu. Dalam perjalanan kami berhenti di sebuah rumah makan Minang (Lupa namanya) di daerah Air Dingin, Kaur Bengkulu pada jam 13.35. Sementara ada 6 mobil lagi yang sudah melaju duluan. Walaupun tempatnya kecil, namun masakannya cukup enak buat saya. Yang lain juga ada yang minta di bungkus untuk berbuka serta makan disana. Selesai makan dan istirahat, kembali kami melanjutkan perjalanan dengan jalan yang masih mulus hingga daerah kota Manna, Bengkulu.

Dari daerah Manna hingga Tais jalanan mulai kurang bersahabat karena lumayan banyak jalan rusak, tambalan atau perbaikan jalan serta ada juga beberapa jembatan dengan sistim buka tutup. Namun tidak membuat kemacetan yang panjang hanya sesaat saja.

Selepas maghrib mata Saya sudah mulai mengantuk, karena jalanan rusak tadi lumayan menguras tenaga untuk memutar setir. Dan rombongan mulai terpisah dari Tais ke Bengkulu. Alhamdulillah jalanan dari Tais ke Bengkulu sudah bagus dan kita bisa memacu kendaraan walaupun sedikit berkelok kelok. Saya dan Om Sony tertinggal di belakang mulai memacu mobil dikarenakan Bengkulu sudah dekat. Akhirnya Kami tiba di Hotel Santika Bengkulu jam 20.15 WIB dengan booking online lewat Traveloka, ratenya berkisar 573.000 (Superior Room). Di Hotel Santika, Yang nginap ada Saya, Om Eko, Om rio, Om Yos, Om Sony, Om Audit, Om Mahfudz, Om Arief, Om Romi, Om Anto, Om Hendro dan Om Riki. Sedangkan Om Andri, Om Zaki dan temannya terpisah karena ingin mencari guest house dan Om Jendra. Om Heri dan Om Ade di Hotel yang berbeda.


Selepas berbenah sebentar di Hotel, Kami dikunjungi oleh teman SMA yang tinggal di Bengkulu serta diajak untuk keliling beli oleh-oleh yaitu Pempek Owen yang ada di dekat hotel serta makan malam di Martabak Mesir di daerah Pintu Batu, serta mengantarkannya kembali ke rumahnya yang masih dekat dari Hotel Santika. Dan Kami tiba kembali ke hotel jam 11.06 WIB serta langsung tidur pulas karena sudah hampir lebih 24 jam belum ketemu kasur.

mudik ke solok padang
View dari kamar Hotel Santika Bengkulu

Keesokan harinya, alarm jam 04.00 berbunyi, Kami sahur di ruang makan Hotel, disana sudah ada Om Yos dan beberapa rekan RTS Lainnya yang sudah sahur. Dan yang terakhir datang, ada Om Rio yang datang 10 menit jelang Adzan Subuh.


Rombongan rencananya akan jalan-jalan dulu di Kota Bengkulu sehingga jadwal berangkat ke Padang bisa lebih siang. Waktu pagi kami habiskan untuk istirahat, ngobrol, berfoto bersama dan anak-anak berenang di Hotel. Sementara om Heri, pagi hari sudah pamit untuk jalan duluan menuju ke Lubuk Linggau.

mudik road to sumatra
Kebersamaan RTS Linbar 2018 di Hotel Santika Bengkulu
Jam 12 Rombongan sudah bergerak ke Benteng Fort Marlborough. Disini Videografer andalan RTS yaitu Om Arief sudah siap dengan kameranya untuk mengambil foto dan video. Mobil-mobil kami atur berjejer sehingga rapi untuk diambil foto dan videonya oleh Om Arief. Selepas berfoto kami langsung menuju ke arah Padang.
Happy Mudik, Happy Family Grup RTS Linbar 8

Dan jam 13.23 kami memutuskan untuk berhenti di SPBU Lais atau SPBU kedua dari Bengkulu sambil ishoma dan menunggu rekan yang lain tertinggal yaitu ada Om Ade, Om Zaki CS, Om Jendra dan Om Eko yang lagi ganti ban karena ban belakangnya kawatnya sudah keluar.

Sesi foto bersama di Fort Marlborough Bengkulu

Setelah semua bergabung, kecuali Om Zaki masih tertinggal di belakang. Kembali Konvoi menuju padang dipimpin oleh Om Eko dan Om Mahfud sebagai Sweeper. Untuk jalanan masih mulus, sepanjang perjalanan di suguhi pantai sampai Bintuhan. Dan dari Bintuhan kita mengambil jalan alternatif ke kanan menuju Ketahun, karena jika melewati jalan Utama bisa dihadang oleh jalan rusak, begitu kata Om Eko. Jalan menuju ketahun juga mulus dan berkelok serta di dominasi juga oleh pohon sawit.

Ngobrol sambil nungguin Pecel Lele di Ketahun
Sesampainya di pasar Ketahun jam 15.34 WIB, Kami berhenti untuk membeli bekal buka puasa di warung Pecel Ayam atau Lele dan menunggu Om Zaki yang ternyata melewati jalur utama Bintuhan -Ketahun yang rusak. Pelayanan warung ini cukup lama, sehingga bisa memakan waktu 1 jam-an kami disana.

Beres soal makanan, kami lanjutkan perjalanan, Saya sempat berhenti di sebuah Masjid karena Ayesha sakit perut dan info ke rombongan agar tetap jalan terus dan nanti Saya akan menyusul. Sembari menunggu Saya ternyata rombongan juga sempat berhenti di pinggir pantai untuk melihat sunset yang terliha indah di Lintas Barat ini. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah SPBU daerah Ipuh untuk istirahat dan berbuka. Saya dan Ummi Ayesha berbuka disini dengan menu Pecel Ayam yang sudah dibeli dari warung sebelumnya.

Masih Konvoi cuy menuju Muko-Muko?
Lebih kurang 1 jam-an Kami disini, perjalanan dilanjutkan kembali menuju kota Muko-muko dan kami berhenti disini untuk Makan kembali di restoran Begadang Satu. Istirahat disini, Saya juga sempat tidur di Musholla untuk persiapan perjalanan malam.

Perjalanan kami lanjutkan kembali, Jalanan disini tergolong mulus, jalan lurus namun masih banyak sapi yang tiba-tiba melintasi jalan, jadi harus hati-hati dan kecepatan juga dikurangi. Om Zaki yang menyusul bersama rombongan yang dibelakang menabrak sapi sehingga mobilnya penyok bagian depan, namun sapinya tidak apa-apa.

Sekitar 03.30 Kami berhenti di sebuah SPBU untuk istirahat sebentar dan berpisah dengan beberapa rekan lain yang berbeda tujuan karena ada yang langsung pulang ke tempat tujuan, Sementara Saya, Om Sony, Om Rio, Om Yos, Om Audit dan Om Ade (tapi batal) ingin berwisata dulu ke kawasan Mandeh di Painan.

Ummi Ayesha sudah booking kapal untuk wisata pulau Mandeh, yaitu Pak Alam pemilik kapal yang sudah menghubungi kami juga sejak tadi malam dan sudah siap menunggu di pertigaan Pantai Carocok, Tarusan.

Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga di sebuah SPBU Batang Kapas, kami berhenti dan sahur disana serta sholat Subuh di sebuah masjid di dekat SPBU tersebut. Setelah subuh sekitar jam 05.30 kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Carocok dan tiba disana jam 06.45 dan disambut oleh Pak Alam serta langsung menuju ke rumahnya di Tempat Pelelangan Ikan, Carocok.

Setelah berdiskusi, akhirnya kami sepakat untuk mengambil Paket 3 yang bisa singgah ke semua Pulau di Kawasan Mandeh, yang nantinya berujung di Pulau Pasumpahan. 07.15 WIB, Kami berangkat dengan 1 kapal yang bisa memuat 5 keluarga.


Perjalanan ke pulau Pasumpahan ternyata memakan waktu yang lama, sekitar 1.15 menit. Sehingga membuat Saya mabuk laut sedangkan yang lainnya biasa-biasa saja. Kami sempat berfoto di beberapa spot terkenal meskipun hanya dari atas kapal saja seperti Pulau Swarna Dwipa, Cubadak dan beberapa pulau lainnya. Itupun foto dipaksa oleh Pak Alam, yang orangnya cukup aktif memberikan informasi seputar kawasan pulau Mandeh.

Sesampai di Pasumpahan, kesan pertamanya adalah Pantainya Bersih dengan pasir putih dan air laut yang hijau serta berpadu dengan bukit hijau yang berhadapan dengan pulau tersebut. Sehingga hasilnya menciptakan pemandangan yang luar biasa indahnya apalagi yang ada di Pulau tersebut hanya rombongan Kami saja (karena bulan puasa) berasa di pulau pribadi. Ayesha langsung bermain pasir dengan teman-teman lainnya, Ummi sibuk dengan co driver lainnya, sedangkan Saya langsung nyebur ke laut untuk berenang dan main air. Sementara Om-om yang lain ada yang tidur, ada yang berfoto - ria.

Ada sekitar 3 jam-an Kami di Pulau ini. Setelah mandi Bilas, foto bersama kami kembali menuju Pantai Carocok, Tarusan, dan tiba sekitar jam 2 di sana. Kami melanjutkan perjalanan dan berpisah dengan Om Yos dan Om Audit. Sementara Saya, Om Sony dan Om Rio masih beriringan hingga Padang. Kami sempat berhenti untuk menawar durian di jalan utama Painan - Padang namun harga yang ditawarkan masih tinggi sehingga Kami mengurungkan niat untuk membelinya. Dan Akhirnya 16.15 WIB Kami tiba di daerah Gaung, Teluk Bayur untuk mampir ke Rumah Saudara Ummi Ayesha dan kami berpisah dengan Om Rio yang menuju Kota padang dan Om Sony yang menuju Kota Bukit Tinggi.

Masi Konvoi bareng om sony dari Painan menuju Padang
Kami singgah disini sekitar 30 menit untuk silaturahmi, sholat dan istirahat sejenak. Setelah itu langsung jalan menuju Daerah Jati dekat Rumah Sakit M.Djamil untuk menjemput saudara Ummi. Perjalanan dari Gaung ke Jati lumayan macet karena sore hari banyak mobil dan motor yang keluar. Selepas menjemput kami terus menuju arah ke jalan Padang - Solok melintasi Sitinjau Laut dan Sholat Maghrib di sebuah Masjid setelah Arosuka. Setelah itu lanjut dan tiba di rumah Atuk Ayesha di Kampung Jawa, Kota Solok pada jam 19.43 WIB untuk bersilaturahmi dengan berkumpul bersama saudara Saya lainnya yang sudah tiba lebih dahulu. Sekitar 40 menitan kami disini, kemudian kami pamit dan lanjut menuju ke Rumah Nenek Ayesha di Sumani. Dan tidak lupa saya mengisi BBM full di jalan menuju ke Sumani. Alhamdulillah, Sampai di rumah tepat jam 21.10 dan sudah ditunggu oleh Keluarga dengan peluk hangat.

Terima Kasih untuk Om Sony, Om RTS Linbar 8 atas kebersamaannya di mudik 2018 ini dan juga untuk om dan tante RTS semuanya atasi info dan update cantiknya seputar jalur mudik Lintas Sumatera yang berguna bagi anggota RTS 2018. Semoga kita semua bisa mudik bareng ke Padang atau Sumatra lagi di tahun-tahun berikutnya, InsyaAllah :)

Biaya BBM
Note: Total Perjalanan sekitar +- 1511 KM
Biaya BBM Rp 750.160 | Ertiga Manual
Metode Full to Full (FTF) => +- 1:15.7 dengan menggunakan Pertalite
Total +- 96 Liter

Advertisement

Baca juga:

Buka Komentar
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar

1 komentar

Mantep euy ceritanya om Wike!! jadi ingin juga nih mencoba lintas barat!! luar biasa pemandangan lautnya!! ternyata ertiga paling irit nih minumnya!!

Balas